Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Rumah Jiwa Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019, RSJD Dr. Amino Gondohutomo menyelenggarakan serangkaian acara, dimana salah satunya adalah Pendidikan Kesehatan Jiwa Masyarakat yang kali ini mengambil judul “Aku Yang Muda, Yang Anti Bullying” di Aula SMA N 15 Semarang pada hari Rabu 13 Februari 2019.
Pendidikan Kesehatan Jiwa Masyarakat diikuti oleh 180 orang, terdiri dari guru dan siswa SMA N 15 Semarang. Dengan Narasumber Cicilia Tanti Utami, M.Psi., M.A. dan Soleh Amin, S.Pd., M.Pd..
Selain penyampaian materi bulliying, peserta juga melakukan Praktek Cuci Tangan serta melakukan deteksi dini dan konsultasi kesehatan jiwa menggunakan aplikasi SIDEWA (Sistem Deteksi Dini Kesehatan Jiwa) berbasis android; suatu aplikasi deteksi dini gangguan jiwa milik RSJD Dr. Amino Gondohutomo.
Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada siswa dan siswi SMA 15 mengenai bahaya bullying serta mengenalkan aplikasi Sidewa dengan melakukan deteksi dini kesehatan jiwa usia remaja.
Seperti yang kita ketahui, bullying (perundungan) menjadi isu yang memprihatinkan di sekolah-sekolah. Bullying, adalah tindakan mengintimidasi dan memaksa seorang individu atau kelompok yang lebih lemah untuk melakukan sesuatu di luar kehendak mereka, dengan maksud untuk membahayakan fisik, mental atau emosional melalui pelecehan dan penyerangan. Orang tua sering tidak menyadari, anaknya menjadi korban bullying di sekolah.
Bentuk yang paling umum dari bentuk penindasan/bullying di sekolah adalah pelecehan verbal, yang bisa datang dalam bentuk ejekan, menggoda atau meledek dalam penyebutan nama. Jika tidak diperhatikan, bentuk penyalahgunaan ini dapat meningkat menjadi teror fisik seperti menendang, meronta-ronta dan bahkan pemerkosaan.
Bullying erat kaitannya dengan kesehatan jiwa seseorang. Biasanya pelaku memulai bullying di sekolah pada usia muda, dengan melakukan teror pada anak laki-laki dan perempuan secara emosional atau intimidasi psikologis. Anak mengganggu karena berbagai alasan. Biasanya karena mencari perhatian dari teman sebaya dan orang tua mereka, atau juga karena merasa penting dan merasa memegang kendali. Banyak juga bullying di sekolah dipacu karena meniru tindakan orang dewasa atau program televisi.
Bullying memiliki efek jangka panjang pada korban dan si penindas itu sendiri. Untuk korban, perlakuan itu merampas rasa percaya diri mereka. Untuk pelaku bullying, efeknya adalah menjadi kebiasaan dan kenikmatan untuk meningkatkan ego mereka. Ketakutan dan trauma emosional yang diderita si korban dapat memicu kecenderungan untuk putus sekolah. Beberapa anak-anak yang terbiasa melakukan bullying di sekolah akhirnya dapat menjadi orang dewasa yang kejam atau penjahat.
Pencegahan pelaku bulliying bisa dilakukan di lingkungan keluarga, dengan menciptakan kondisi emosi di keluarga yang positif dan kondusif. Dengan kondisi emosi keluarga yang positif, anak-anak akan belajar bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana mengelola konfik dan masalah, serta belajar bagaimana merespon lingkungan.
Dengan kegiatan Pendidikan Kesehatan Jiwa Masyarakat “Yang Muda, Yang Anti Bullying” ini diharapkan menambah pengetahuan siswa-siswa SMA N 15 tentang bullying dan bertindak positif di sekolah , sehingga dapat tercipta lingkungan sekolah yang sehat dan kondusif.










