Bunuh Diri, Dekat dengan Kita

Bunuh Diri, Dekat dengan Kita

Bunuh Diri, Dekat dengan Kita

 

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan pesan singkat dari seorang sahabat saya. Isi pesan tersebut sangat mengejutkan bagi saya, ia ingin bunuh diri. Sahabat saya adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak dan suami yang bekerja di luar pulau. Baginya, hidupnya sangat berat. Bukan berarti dia tidak bersyukur akan hidupnya, namun ada berbagai hal yang membuatnya sangat lelah, dan ia ingin mengakhiri semuanya dengan cepat. Melalui cerita tersebut saya ingin menyampaikan, betapa dekatnya fenomena bunuh diri ini dengan kita. Mungkin, saat itu saya mendapatkan pesan dari seorang ibu rumah tangga, namun tak sedikit pula anak remaja yang “curhat” datang ke poli psikologi dan menyatakan ingin bunuh diri. Apakah penyebabnya mereka tidak bersyukur? Saya rasa tidak.

Sebagai manusia, yang merupakan makhluk sosial, dewasa ini kita sering lupa untuk bersosialisasi. Ya… memang bersosialisasi, namun bisa dikatakan sebagian besar lewat dunia maya. Interaksi yang demikian tidak hanya menjanjikan kecepatan dan kepraktisan, namun juga kemudahan. Hal ini pula yang biasa terjadi antara kita sebagai orangtua dan anak-anak. Kita lupa bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan nafkah berupa materi saja, namun mereka juga membutuhkan pelukan, belaian, dari orangtuanya dan hal ini tentu saja tidak bisa didapatkan mereka lewat dunia maya.

Menjadi orangtua di era milenial ini tentu tidak mudah, semakin banyak tantangan yang harus dihadapi. Tidak hanya bersaing dengan lingkungan sekitar yang tidak mendukung, namun juga beradu cepat dengan kemajuan teknologi yang menawarkan banyak kemudahan yang menggiurkan. Sehingga melupakan esensi utama saat menjadi orangtua, bahwa orangtua adalah dasar kehidupan, pengasuhan, dan pendidikan seorang anak.

Seberapa seringkah kita sebagai orangtua sekedar menanyakan tentang perasaannya hari ini? Atau mungkin tidak pernah menanyakan? Hal ini dapat menjadi refleksi bagi kita sebagai orangtua. Alih-alih menanyakan berapa nilai ulanganmu hari ini, lebih bijak adanya jika kita menanyakan bagaimana perasaannya hari ini. Anak akan lebih merasa diterima dan dicintai saat perasaannya diakui, meskipun itu perasaan yang negatif sekalipun. Dunia saat ini menawarkan segala sesuatu yang instan, para idola anak kita pun tak jarang memberikan penyelesaian masalah yang instan, yaitu bunuh diri. Kejadian bunuh diri bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan sebuah proses pembelajaran tetang kehidupan. Sangat disayangkan apabila anak kita menjadi korbannya. Sebelum hal ini terjadi, maka hadirlah seutuhnya ketika berada di dekat anak. Jauhkan gadget, tatap matanya saat berbicara dan beri pelukan saat ia nampak lelah menjalani harinya. Niscaya, saat mengalami masalah, mereka akan mencari kita sebagai orangtuanya, bukan mencari jalan pintas atau jalan lain yang menjerumuskan untuk menyelesaikan masalahnya. Mari, kita lakukan dari hal yang termudah, jangan lupakan untuk memeluk anak setiap hari. Sudahkah anda memeluk anak anda hari ini?

 

Ditulis oleh:

Laurencia Rizki M., M.Psi., Psikolog

Psikolog RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Share

Humas RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Selamat datang di website RSJD dr. Amino Gondohutomo, Kami siap membantu Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *