PENGALAMAN KELUARGA TENTANG TINDAKAN LABIOPLASTI

PENGALAMAN KELUARGA TENTANG TINDAKAN LABIOPLASTI

Anak merupakan generasi penerus cita-cita bangsa, karenanya anak perlu mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar secara jasmani, rohani, maupun sosial, namun tidak semua anak hadir dalam kondisi fisik dan mental yang normal. Kondisi fisik anak saat bayi dapat menjadi suatu permasalahan dalam kehamilan dan kelahiran. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya terlahir dengan sempurna. Ibu dapat kehilangan minat untuk mengurus bayinya karena permasalahan kondisi fisik bayi. Permasalahan tersebut antara lain, adanya komplikasi kelahiran atau lahir dengan jenis kelamin tidak sesuai dengan harapan, atau lahir dengan kelainan bawaan. Bayi dengan kondisi kesehatan yang kurang baik juga dapat menjadi tambahan stressor bagi ibu. Bayi menjadi lebih banyak membutuhkan perhatian, perawatan, dan juga biaya. Salah satu kondisi yang tidak diharapkan orang tua pada bayi nya yang baru lahir, adalah adanya kelainan rongga mulut atau yang lebih dikenal dengan istilah labioskizis atau bibir sumbing.

Labioskizis atau Bibir sumbing adalah suatu kondisi dimana terdapatnya celah pada bibir atas diantara mulut dan dasar hidung. Kelainan ini merupakan kongenital kraniofasial yang paling sering ditangani dokter bedah. Kelainan ini banyak berhubungan dengan kondisi kelainan bawaan yang lain sehingga diperlukan pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh pada pasien labioskizis. Labioskizis emang belum diketahui penyebab nya secara pasti namun faktor yang diperkirakan menyebabkannya adalah kombinasi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, seperti umur ibu, obat-obatan, penyakit infeksi yang dialami ibu saat hamil, serta ibu hamil yang mengkonsumsi minuman beralkohol atau merokok. Anak yang dari saudara kandung atau orangtua yang menderita kelainan ini memiliki risiko terkena kasus ini yang lebih tinggi.

Kelainan labioskizis menjadi masalah tersendiri di kalangan masyarakat, anak dengan kelainan bawaan ini akan mengalami masalah asupan makanan, berbicara, mendengar dan integrasi sosial, yang dapat diperbaiki dengan operasi, perawatan gigi, terapi wicara dan intervensi psikososial seluruh kebutuhan perawatan tersebut memberikan beban resiko keuangan yang cukup besar pada keluarga.

Penanganan atau tindakan pada labioskizis atau bibir sumbing adalah operasi labioplasti. Labioplasti adalah suatu teknik pembedahan dengan tujuan perbaikan estetika dari bibir dan hidung, penutupan celah palatum, normalisasi bicara dan mendengar, fungsi mengunyah yang normal, kesehatan gigi serta perkembangan psikososial yang normal.

Berdasarkan hasil penelitian pengalaman keluarga tentang tindakan labioplasti di RSJD Amino Gondohutomo, berikut rangkuman respon keluarga yang berhasil didapatkan yaitu:

  1. Keluarga menerima bahwa anaknya menderita labioskizis meski ada perasaan sedih yang dirasakan
  2. Keluarga mampu memberikan dukungan berupa emosional / pikiran dan tenaga dalam menghadapi kondisi anaknya yang mengalami labioskizis,
  3. Keluarga tidak mengalami kendala yang berarti ketika anaknya mau menjalani operasi labioplasti,
  4. Keluarga yakin dan tenang terhadap tindakan labioplasti dengan cara berdoa,
  5. Keluarga bisa menerima edukasi yang telah diberikan oleh Dokter terkait kondisi anaknya dan memahami cara merawat anak post operasi labioplasti.

Hasil penelitian ini berdasarakan pengalaman keluarga pasien, meskipun sempat kaget, dan sedih, keluarga menerima kondisi anak dan keluarga lain memberi dukungan yang beragam untuk kesembuhan anak. Hasil penelitian juga menunjukkan tidak adanya kendala yang dirasakan secara bermakna oleh keluarga dalam persiapan preoperatif tindakan Labioplasti.

Berdasarkan pengalaman keluarga, prosedur dan anjuran yang telah diberikan oleh dokter sangat berpengaruh dalam keyakinan keluarga untuk kesembuhan anak, sehingga keluarga merasa tenang saat anak menjalani operasi labioplasti. Dalam melakukan perawatan pasca operasi tindakan Labioplasti, keluarga juga mampu memahami edukasi yang diberikan dan menerapkannya pada anak pasca operasi.

Dengan adanya pemaparan artikel tentang pengalaman  tindakan labioplasti, diharapkan pembaca memahami dan berempati dengan kondisi yang sebenarnya dialami oleh keluarga dengan anak menderita labioschizis serta tindakan labioplasty yang harus dijalani.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Astuti D, Indanah I, Rahayu ED. Hubungan Dukungan Sosial dan Kondisi Bayi dengan Kejadian Postpartum Blues pada Ibu Nifas di Rumah Sakit Permata Bunda Purwodadi. 9th Univ Res 2019;9(1).
  2. Hopper R, Cutting C, Grayson B. Cleft Lip and Palate. Dalam: Grabb and Smith’s Plastic Surgery. 7th ed. Philadelphia: Lippincott Williams Wilkins;
  3. Meiyana H, Pakpahan S. Upaya Non Governmental Organization Smile Train Dalam Mengatasi Masalah Kesehatan (Bibir Sumbing) Di Indonesia Tahun 2014–2015. Riau;
  4. Reswan A. Perancangan Sistem Pakar Untuk Menentukan Diagnosis dan Rencana Terapi Bagi Penyandang Cacat Celah Bibir dan Langit-Langit Berdasarkan Protokol Operasi Bedah Surabaya: Program Studi MMT-IT; 2006.
  5. Suryandari Hubungan antara Umur Ibu dengan Klasifikasi Labioschisis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Indones J Kebidanan. 2017;1(1):49–5

 

Salam sehat jiwa

Penulis,

Chrisna Ayu Intaniar, S. Kep., Ns

Perawat Amino hospital

(DOWNLOAD)

Share

Humas RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Selamat datang di website RSJD dr. Amino Gondohutomo, Kami siap membantu Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

36 + = 43

WordPress Video Lightbox Plugin