MENGAPA ANAK-ANAK KU SERING BERTENGKAR?

MENGAPA ANAK-ANAK KU SERING BERTENGKAR?

“Ini mainan-ku!”, “Bukan! Ini punyaku!”, “Ayah duduk denganku!”, “Jangan! Ayah duduk denganku saja!”, “Mengapa aku aku terus yang disuruh mengalah?”, “Aku tidak suka punya adik!”

Apakah ayah-bunda sering mendengar ucapan di atas? Seorang pakar psikologi, Bill Cosby mengatakan bahwa anda belum sepenuhnya menjadi orang tua sampai anda memiliki dua orang anak. Orang tua dengan dua atau lebih anak pasti akan nyambung dengan ungkapan ini. Mereka akan langsung menghubungkan dengan percekcokan dan perkelahian yang nampaknya tidak pernah berhenti antara kakak dan adik.

Dalam istilah psikologi, permasalahan perilaku ini disebut dengan sibling rivalry. Perilaku ini menunjuk pada kecemburuan antara kakak dan adik. Meskipun perkembangan ini dikatakan normal, namun beberapa anak akan berkembang menjadi “tokoh antagonis”. Persaingan antara kakak dan adik ini dapat dikatakan normal jika terjadi keseimbangan antara sikap saat mengalami kekalahan dan kemenangan, namun hal ini menjadi tidak normal jika terjadi penyerangan antara satu dengan yang lain.

Perkelahian yang terjadi terus-menerus antara kakak-adik adalah salah satu frustrasi terbesar yang para orang tua alami. Mereka merasa apapun yang mereka perbuat tidak ada yang berhasil. Reaksi tipikal para orang tua terhadap perkelahian adalah : berteriak “Kalian bisa diam tidak?!” , berpihak pada salah satu anak, mengancam, menuduh, mengabaikan perasaan-perasaan negatif, dan menggantikan anak-anak dalam menyelesaikan masalah mereka. Namun, semua reaksi ini hanya menambahkan bensin ke api.

 

Waspadalah. Tanpa intervensi, sibling rivalry bisa berlanjut hingga dewasa.

Ada beberapa hal yang dapat menjadi pemicu timbulnya sibling rivalry. Hal tersebut antara lain:

1.    Anak terlalu tergantung pada orang tua, sehingga mereka tidak mau berbagi dengan saudara yang lain

2.    Orang tua lebih memilih atau memihak pada satu anak

3.    Kemarahan pada anak yang lebih tua dilampiaskan pada saudara yang masih kecil

4.    Salah seorang anak merasa tidak memiliki talenta atau talentanya lebih rendah daripada saudara lainnya.

Bila hal-hal tersebut tidak ditangani dengan tepat, maka dapat muncul tekanan emosi pada diri anak dan akan mempengaruhi perilakunya, dan yang lebih parah kebencian dengan saudara kandung ini akan belanjut hingga mereka dewasa.

 

Cari penyebabnya

Kebanyakan sibling rivalry dialami oleh anak-anak sesuai tahapan perkembangannya. Misalnya, pada usia 2-3 tahun anak sedang berkembang keakuannya, ingin
dihargai, ingin diakui bahwa mereka nomor satu, dan ingin yang paling disayangi orang tua.

Berdasarkan persoalan tersebut, maka penting bagi orang tua untuk mengatur trik supaya tetap memperlakukan adik dan kakak sama, tetapi tidak membandingkan atau membedakan. Misalnya dengan memuji bahwa sang kakak pintar dalam menggambar, dan adik suaranya merdu saat bernyanyi. Pernyataan seperti ini akan membuat kakak dan adik menyadari bahwa mereka unik dan memiliki kelebihan masing-masing.

 

Ditulis Oleh:

Laurencia Rizki Marhendrawati, M.Psi., Psikolog

Share

Humas RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Selamat datang di website RSJD dr. Amino Gondohutomo, Kami siap membantu Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

12 + = 14