KONTROL MARAH DENGAN AUDIO VISUAL

KONTROL MARAH DENGAN AUDIO VISUAL

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana sesorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya, sementara orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) didefinisikan sebagai orang yang memiliki masalah fisik, mental, sosial dan pertumbuhan dan perkembangan dan kualitas hidup, sehingga memiliki resiko mengalami gangguan jiwa akan berbeda dengan ODMK yang baru berpotensi memiliki gangguan jiwa, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang didefinisikan sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa dalam pikiran, perilaku dan perasaan yang bermanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan perubahan perilaku yang bermakna serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia (UndangUndang Nomor 18 Tahun 2014) .

Salah satu masalah keperawatan yang ditemukan pada pasien gangguan jiwa yaitu masalah perilaku kekerasan. Menurut penelitian dari Wahyuningsih (2009) dengan judul penurunan perilaku kekerasan pada klien skizofrenia menunjukan bahwa hasil dari sebagian alasan masuk pasien dengan gangguan jiwa adalah perilaku kekerasan sebanyak 62%.

Perilaku kekerasan merupakan perilaku yang timbul dari dalam diri pasien yang bertujuan melukai secara fisik maupun psikologis, hal demikian jika tidak mendapatkan penanganan dengan baik dapat menjadi pemicu banyaknya kasus seperti mencoba menciderai diri (pasien) sendiri, melukai orang lain, serta merusak lingkungan sekitar (Subu’ et. al. 2016). Cara mengontrol marah pada pasien perilaku kekarasan meliputi cara fisik dapat dilakukan dengan cara nafas dalam dan pukul bantal atau kasur,  mengontrol secara verbal yaitu dengan cara menolak dengan baik, meminta dengan baik, dan mengungkapkan dengan baik, mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual dengan cara shalat dan berdoa dan mengontrol dengan cara minum obat teratur.

Dalam melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien, perawat harus aktif melakukan berbagai asuhan secara langsung pada pasien maupun kepada keluarga, melakukan komunikasi dan interaksi langsung dengan pasien, serta melakukan penatalaksanaan manajemen keperawatan. Mengabdikan diri sebagai seorang perawat jiwa diharapkan juga memiliki kemampuan menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, agar hasil asuhan keperawatan yang diberikan memberikan hasil yang optimal untuk pasien maupun keluarga pasien (Widodo et al., 2022).

Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk pasien dengan Perilaku Kekerasan salah satunya dengan memberikan edukasi cara mengontrol marah. Menurut Potter et. al. (2020) dalam Fhirawati et. al. (2020) edukasi merupakan serangkaian aktivitas yang diarahkan dalam penyampaian suatu pengetahuan baik secara sengaja dan sadar yang membantu seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru, mengubah sikap dan perilaku, mengadopsi perilaku baru atau menunjukkan keterampilan baru. Karena itulah seorang edukator (dalam hal ini perawat) harus memiliki pemahaman terhadap materi yang akan diberikan dan prinsip edukasi kepada pasien untuk menyediakan suatu panduan kepada individu pasien, mengatur kecepatan pembelajaran dengan tepat, serta memperkenalkan konsep secara kreatif dalam mencapai tujuan edukasi yang sukses dengan adanya pengetahuan yang baru, perubahan sikap dan perilaku. Edukasi dapat diberikan dengan berbagai media salah satunya memanfaatkan media edukasi audio visual yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan secara simultan sehingga informasi yang disampaikan akan semakin mudah diterima dan dipahami oleh pasien. Edukasi harus diberikan secara terintegrasi yang melibatkan seluruh pemberi asuhan yang berperan dalam asuhan pasien sehingga pasien akan menerima informasi yang tepat dari ahlinya.

Media edukasi audio visual yang dikembangkan dengan memperhatikan proses-proses edukasi seperti pemilihan materi yang tepat, durasi waktu, penggunaan bahasa, penggunaan materi audio dan visual dalam video yang tepat diharapkan bisa memberikan kemudahan bagi pasien untuk memahami informasi yang disampaikan. Edukasi dengan menggunakan media audiovisual dapat meningkatkan pemahaman pasien tentang pengobatan dan efek sampingnya (Fernandes et al., 2020).

Penggunaan media audiovisual ini adalah salah satu bentuk media yang menarik yang bisa digunakan dalam menyampaikan pendidikan kesehatan. Kelebihannya dapat menampilkan gambar bergerak dan terintegrasi dengan suara membuat media ini cukup efektif dalam menyampaikan pesan. Media ini pun melibatkan 2 indra yaitu indra penglihatan dan pendengaran sehingga memungkinkan penggunanya untuk menyerap informasi lebih banyak dan lebih mudah untuk dimengerti (Agustina, 2020).

Pasien diberikan edukasi dengan diputarkan video pendek melalui laptop atau handphone. Pasien diberikan waktu untuk menyimak isi video. Setelah itu perawat menjelaskan tentang maksud dari video yang diputarkan. Kemudian pasien diberikan kesempatan untuk menyampaikan atau menjelaskan kembali  isi dari video dan diberikan waktu untuk bertanya.

Proses edukasi menggunakan media audio visual (video pendek) memudahkan penerimaan informasi dan pengulangan informasi kembali pada pasien untuk mengontrol marah. Pasien lebih tertarik dan lebih mudah memahami cara mengontrol marah yang disampaikan melaui media video. Pasien menunjukan pemahaman dan perubahan perilaku setelah diberikan tindakan edukasi.

Perawat telah melaksanaan edukasi cara mengontrol marah menggunakan media audio visual  pada pasien dengan Resiko Perilaku Kekerasan di RSJD dr. Amino Gondohutomo. Edukasi yang dilaksanakan berdampak baik bagi pasien. Pasien lebih mudah memahami, mengingat dan lebih mudah mempraktekan cara mengontrol marah yang diajarkan.

 

Daftar Pustaka:

Amir Hamzah, Media Audio Visual, (Jakarta: Gramedia, 1998), Cet. Ke-3, h.128

Apriadi Tamburaka, Literasi Media, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 83

Hasannah, S. U., & Solikhah, M. M. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 2(3), 149.

Subu’ M.A. Holmes D., & Elliot, J (2016), Stigmatisasi dan Perilaku Kekerasan pada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Indonesia, Jurnal Keperawatan Indonesia, 19(3), 191-199. https://doi.org/10.7454/jki.v19i3.481 akses dilakukan pada tanggal 05 Juni 2023

Widodo, D., Juairiah, Uairiah, Sumantrie, Pipin, Siringoringo, Nursy, S., Pragholapati, A., Purnawinadi, I. G., Manurung, A., Kadang, Y., Anggraini, O., Hardiyati, H., Widiastuti, S. H., Sari, T. H., & Nasution, R. A. (2022). Keperawatan Jiwa. Yayasan Kita Menulis.

https://ners.unair.ac.id/site/index.php/news-fkp-unair/2463-peran-media-edukasi-audiovisual-terintegrasi-berbasis-health-promotion-model-pada-pasien-covid-19 akses dilakukan pada tanggal 05 Juni 2023

http://perpustakaan.poltekkesmalang.ac.id/assets/file/kti/P17421184064/BAB_II.pdf# akses dilakukan pada 05 Juni 2023

http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/561/3/BAB%20II.pdf# akses dilakukan pada 05 Juni 2023

 

Salam Sehat Jiwa

Penulis,

Ira Puspita Mayasari, S.Kep, Ns

Perawat Amino hospital

(DOWNLOAD)

Share

Humas RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Selamat datang di website RSJD dr. Amino Gondohutomo, Kami siap membantu Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 2 =

WordPress Video Lightbox Plugin