Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Luka Perineum pada Ibu Melahirkan Spontan: Sebuah Kajian Literatur

Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Luka Perineum pada Ibu Melahirkan Spontan: Sebuah Kajian Literatur

Abstrak

Infeksi luka perineum merupakan komplikasi umum pasca persalinan spontan yang dapat menyebabkan dampak yang signifikan pada kesehatan ibu. Pengetahuan mendalam tentang faktor-faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya infeksi luka perineum sangat penting dalam upaya pencegahan dan manajemen komplikasi ini. Artikel ini melakukan kajian literatur yang menyeluruh untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor risiko yang terkait dengan infeksi luka perineum pada ibu yang melahirkan spontan. Kajian literatur melibatkan penelusuran berbagai sumber informasi, termasuk jurnal ilmiah, buku, dan database elektronik, untuk mengumpulkan data terkait faktor-faktor risiko tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa beberapa faktor risiko utama termasuk status imun ibu, kebersihan perineum sebelum persalinan, riwayat infeksi sebelumnya, obesitas, diabetes, dan merokok. Memahami dan mengidentifikasi faktor-faktor ini memungkinkan praktisi kesehatan untuk merencanakan intervensi pencegahan yang tepat dan memberikan perawatan yang sesuai untuk mengurangi risiko infeksi luka perineum. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperdalam pemahaman tentang faktor-faktor risiko ini dan mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif dalam manajemen infeksi luka perineum pada ibu pasca persalinan spontan.

Kata Kunci: Luka perineum, pasca persalinan, manajemen komplikasi

  1. Pendahuluan

Persalinan merupakan momen yang penuh tantangan dan keajaiban bagi seorang ibu. Proses ini seringkali diiringi oleh berbagai perubahan fisiologis dan emosional yang signifikan. Meskipun persalinan adalah peristiwa alami, ia juga dapat memberikan risiko komplikasi kesehatan, terutama pada luka perineum (Nasir et al., 2016).Infeksi luka perineum merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada ibu yang melahirkan secara spontan. Luka perineum adalah luka yang terjadi pada daerah antara vagina dan anus selama persalinan. Infeksi pada luka ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan, perdarahan yang berlebihan, serta komplikasi yang lebih serius jika tidak diobati dengan tepat (Ahmed & Fullerton, 2019).

Kesehatan ibu dan bayi merupakan prioritas utama dalam bidang kesehatan masyarakat. Persalinan spontan, yang terjadi secara alami tanpa intervensi medis yang signifikan, dianggap sebagai metode yang paling diinginkan dan aman bagi kebanyakan ibu dan bayi. Namun demikian, persalinan spontan juga dapat menghadirkan risiko tertentu, terutama terkait dengan luka perineum (Latifah, 2019). Luka perineum sering kali terjadi selama persalinan spontan, terutama pada persalinan vaginal yang normal. Luka ini dapat meliputi robekan pada jaringan perineum, termasuk robekan pada vagina, dinding perineum, dan otot-otot sekitarnya. Sebagai respons terhadap luka tersebut, tubuh berusaha untuk menyembuhkan diri sendiri, namun terdapat risiko infeksi yang dapat mengganggu proses penyembuhan (Girsang et al., 2019).

Infeksi luka perineum adalah masalah kesehatan yang serius yang dapat mempengaruhi kesejahteraan ibu pasca persalinan. Dampak dari infeksi ini dapat mencakup perpanjangan waktu penyembuhan, peningkatan rasa sakit dan ketidaknyamanan, serta komplikasi yang lebih serius seperti abses atau bahkan sepsis (Agustin Dwi Syalfina et al., 2021). Oleh karena itu, pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor risiko yang terkait dengan infeksi luka perineum dapat membantu dalam pencegahan dan penanganan yang lebih efektif (Prasetyorini & Sukesi, 2020). Penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi beberapa faktor yang diduga berkontribusi pada risiko infeksi luka perineum. Namun demikian, masih ada kebutuhan untuk melakukan tinjauan menyeluruh terhadap literatur yang ada guna menggali lebih dalam tentang faktor-faktor tersebut serta mengevaluasi kekuatan bukti yang mendukung hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan risiko infeksi luka perineum (Inayatul Milah, 2021).

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melakukan kajian literatur yang komprehensif tentang faktor-faktor risiko terjadinya infeksi luka perineum pada ibu yang melahirkan secara spontan. Dengan melakukan tinjauan yang mendalam terhadap literatur yang ada, diharapkan dapat diidentifikasi faktor-faktor yang konsisten terkait dengan peningkatan risiko infeksi luka perineum. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi kekuatan bukti yang mendukung hubungan antara faktor-faktor risiko tersebut dengan risiko infeksi luka perineum. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang berharga dalam upaya pencegahan dan penanganan infeksi luka perineum pada ibu pasca persalinan.

  1. Metodologi

Penelitian ini akan terdiri dari beberapa bagian yang terstruktur dengan baik untuk mendukung pencapaian tujuan penelitian. Kemudian, hasil dari kajian literatur akan disajikan dan dibahas secara komprehensif untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko terjadinya infeksi luka perineum.

  1. Diskusi dan Pembahasan
  • Epidemiologi dan Prevalensi Infeksi Luka Perineum

Mengetahui prevalensi infeksi luka perineum pada populasi ibu yang melahirkan secara spontan adalah langkah penting dalam mengukur dan memahami skala masalah ini dalam konteks kesehatan masyarakat. Prevalensi ini menggambarkan seberapa umumnya infeksi luka perineum terjadi di antara populasi ibu yang melahirkan secara alami tanpa intervensi medis yang signifikan (Mora-Hervás et al., 2015). Memahami prevalensi memberikan pandangan yang lebih jelas tentang besarnya dampak infeksi luka perineum terhadap kesehatan ibu pasca persalinan (Oliveira et al., 2014).

Tingkat keparahan infeksi luka perineum dalam populasi juga merupakan informasi penting yang dapat diperoleh dari epidemiologi (Jones et al., 2019). Infeksi luka perineum dapat bervariasi dalam tingkat keparahannya, mulai dari kasus ringan hingga kasus yang mengancam jiwa. Dengan mengetahui tingkat keparahan, pemerintah dan lembaga kesehatan dapat mengalokasikan sumber daya yang tepat untuk penanganan dan perawatan ibu yang terkena dampak infeksi luka perineum yang lebih parah (Chen et al., 2013).

Selain itu, informasi epidemiologi juga membantu dalam mengidentifikasi distribusi usia ibu yang rentan terhadap infeksi luka perineum. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa usia ibu dapat mempengaruhi risiko infeksi luka perineum, dengan ibu yang lebih tua atau lebih muda mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi. Dengan mengetahui distribusi usia yang rentan, program-program pencegahan dan intervensi dapat ditargetkan secara spesifik untuk meningkatkan kesadaran dan perawatan pada kelompok risiko tertentu (Matsumiya et al., 2017).

Faktor-faktor demografis lainnya, seperti status sosioekonomi, etnisitas, dan akses terhadap perawatan medis, juga dapat memengaruhi prevalensi dan risiko infeksi luka perineum. Misalnya, ibu dengan status sosioekonomi rendah mungkin memiliki akses yang lebih terbatas terhadap perawatan prenatal dan persalinan yang berkualitas, meningkatkan risiko infeksi luka perineum. Dengan memahami faktor-faktor demografis ini, program-program kesehatan masyarakat dapat dirancang untuk mengatasi disparitas kesehatan yang mungkin ada dalam populasi ibu yang melahirkan secara spontan (Rukadikar & Bhoyar, 2023).

Secara keseluruhan, informasi epidemiologi tentang infeksi luka perineum memberikan wawasan yang berharga bagi kebijakan kesehatan masyarakat dan praktisi kesehatan dalam merancang strategi pencegahan, deteksi dini, dan intervensi yang tepat (Ardhana, 2021). Dengan memahami prevalensi, tingkat keparahan, distribusi usia, dan faktor-faktor demografis lainnya, langkah-langkah dapat diambil untuk mengidentifikasi dan memberikan perhatian khusus kepada kelompok risiko tertentu, serta meningkatkan kualitas perawatan dan hasil kesehatan bagi ibu yang melahirkan secara spontan (Aliffiro Naufal & Muklason, 2022).

  • Faktor-Faktor Risiko yang Terkait dengan Persalinan

Persalinan spontan adalah proses alami melahirkan bayi secara alami tanpa campur tangan bedah yang signifikan. Namun, seperti halnya dengan banyak proses medis, ada faktor-faktor yang dapat memengaruhi risiko infeksi luka perineum, yang merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada ibu setelah persalinan spontan. Infeksi luka perineum terjadi ketika luka pada daerah perineum, yang merupakan area antara vagina dan anus, terinfeksi oleh bakteri (Andalas, 2020).

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi risiko infeksi luka perineum adalah durasi persalinan. Persalinan yang lebih lama cenderung meningkatkan risiko infeksi karena adanya tekanan yang berkepanjangan pada area perineum, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan memudahkan masuknya bakteri (Patterson & Hundley, 2010). Penggunaan instrumen bantu seperti forceps atau vakum juga dapat meningkatkan risiko infeksi. Penggunaan alat-alat ini dapat menyebabkan luka yang lebih besar pada perineum, serta meningkatkan kemungkinan kerusakan jaringan dan perdarahan, yang semuanya dapat meningkatkan risiko infeksi (Sides et al., 2015).

Selain itu, ukuran bayi juga menjadi faktor penting. Bayi yang lebih besar cenderung menyebabkan tekanan yang lebih besar pada perineum saat proses persalinan, meningkatkan risiko robekan dan luka (Komorowski et al., 2014) . Presentasi janin juga berpengaruh; presentasi bokong atau posisi janin yang tidak tepat dapat membuat persalinan menjadi lebih sulit, memerlukan lebih banyak intervensi seperti episiotomi (sayatan pada perineum) yang juga meningkatkan risiko infeksi (Durnea et al., 2018).

Pemahaman tentang bagaimana variabel-variabel ini berkontribusi terhadap risiko infeksi luka perineum sangat penting dalam merancang strategi pencegahan yang tepat (Thorne et al., 2022). Pencegahan infeksi luka perineum mencakup berbagai tindakan, mulai dari pemeriksaan prenatal yang cermat untuk memantau ukuran dan posisi bayi, hingga teknik persalinan yang hati-hati dan pencegahan luka dengan melakukan episiotomi secara selektif. Selain itu, perawatan luka pasca-persalinan yang baik, termasuk kebersihan yang baik dan perawatan luka yang tepat, juga kunci dalam mengurangi risiko infeksi (Webb et al., 2016).

Strategi pencegahan yang efektif juga dapat melibatkan pendidikan kepada ibu mengenai teknik-teknik pernapasan dan posisi yang optimal selama persalinan untuk mengurangi tekanan pada perineum. Tim medis juga harus memastikan praktik-praktik higienis yang ketat selama persalinan dan perawatan pasca-persalinan. Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi risiko infeksi luka perineum, dapat dirancang strategi pencegahan yang komprehensif dan efektif untuk meningkatkan keselamatan ibu selama persalinan spontan.

  • Kondisi Kesehatan Ibu dan Faktor Risiko Individual

Faktor-faktor kesehatan ibu memainkan peran krusial dalam menentukan risiko infeksi luka perineum setelah persalinan. Salah satu faktor utama adalah status imun ibu (Takyi et al., 2022). Sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat membuat ibu rentan terhadap infeksi, termasuk infeksi luka perineum. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh sebelum dan selama kehamilan sangatlah penting. Ini dapat dicapai melalui pola makan sehat, olahraga teratur, menghindari stres berlebihan, dan memenuhi kebutuhan gizi (Puissegur et al., 2023).

Kebersihan perineum sebelum persalinan juga merupakan faktor kunci dalam mencegah infeksi luka perineum. Perawatan yang baik terhadap area perineum sebelum dan selama persalinan dapat mengurangi risiko infeksi. Praktik-praktik kebersihan seperti mandi rutin, membersihkan area perineum dengan benar, dan menghindari penggunaan produk kimia yang berpotensi iritasi dapat membantu menjaga kebersihan dan mencegah infeksi (Gommesen et al., 2019).

Riwayat infeksi sebelumnya juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kecenderungan ibu terhadap infeksi luka perineum. Jika seorang ibu memiliki riwayat infeksi sebelumnya, terutama yang terkait dengan sistem reproduksi atau saluran kemih, maka kemungkinan ia lebih rentan terhadap infeksi perineum. Memahami riwayat medis ibu dengan baik dapat membantu dalam mengidentifikasi faktor risiko potensial dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang sesuai (Nakamura et al., 2017).

Selain faktor-faktor tersebut, beberapa kondisi kesehatan yang mendasari juga dapat meningkatkan risiko infeksi luka perineum. Obesitas adalah salah satu faktor risiko yang signifikan, karena kelebihan berat badan dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi pertumbuhan bakteri dan infeksi. Diabetes juga dapat meningkatkan risiko infeksi karena kadar gula yang tinggi dalam darah dapat memperlambat proses penyembuhan luka. Merokok juga diketahui dapat merusak sistem kekebalan tubuh dan mempengaruhi proses penyembuhan luka, sehingga meningkatkan risiko infeksi luka perineum (Knobben et al., 2006).

Pada akhirnya, penting untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor kesehatan ini secara terpisah saat merencanakan perawatan perineum dan mencegah infeksi luka perineum. Upaya pencegahan yang tepat, termasuk edukasi tentang kebersihan perineum, pemantauan kondisi kesehatan ibu, dan pengelolaan kondisi medis yang mendasari, dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan mempromosikan pemulihan yang cepat dan optimal setelah persalinan.

  • Aspek Proses Penyembuhan dan Perawatan

Proses penyembuhan luka perineum setelah persalinan spontan adalah tahapan krusial dalam pemulihan ibu setelah melahirkan. Faktor-faktor tertentu memengaruhi bagaimana luka tersebut sembuh, dan pemahaman yang baik tentang hal ini dapat membantu dalam merancang perawatan yang tepat untuk mengurangi risiko infeksi dan komplikasi (Okeahialam et al., 2021). Kebersihan perawatan merupakan salah satu aspek penting dalam proses penyembuhan luka perineum. Merawat area perineum dengan baik setelah persalinan, termasuk membersihkan dengan air hangat dan sabun ringan serta mengganti pembalut secara teratur, membantu mencegah kontaminasi dan infeksi. Selain itu, menjaga kebersihan diri secara umum juga penting untuk mengurangi risiko infeksi (MCGUINNESS & NORR, 1991).

Jenis jahitan yang digunakan dalam penutupan luka perineum juga berpengaruh terhadap proses penyembuhan (Mainstone, 2004). Jahitan yang dilakukan dengan hati-hati dan presisi dapat membantu mempercepat penyembuhan luka, sementara jahitan yang longgar atau tidak rapi dapat meningkatkan risiko infeksi dan menghambat proses penyembuhan. Oleh karena itu, penting bagi tenaga medis yang melakukan jahitan untuk memastikan bahwa prosedur tersebut dilakukan dengan baik (Simarmata, 2022). Penggunaan antibiotik profilaksis juga dapat memengaruhi proses penyembuhan luka perineum. Antibiotik diberikan secara profilaksis untuk mencegah infeksi postpartum pada beberapa kasus, terutama jika ibu memiliki faktor risiko tertentu seperti preeklampsia atau ketuban pecah dini yang telah berlangsung lebih dari 18 jam sebelum persalinan. Namun, penggunaan antibiotik haruslah selektif dan mempertimbangkan manfaat serta risiko potensialnya, termasuk perkembangan resistensi antibiotic (Suleiman, 2008).

Memahami bagaimana kebersihan perawatan, jenis jahitan, dan penggunaan antibiotik profilaksis mempengaruhi risiko infeksi luka perineum membantu dalam merancang intervensi perawatan yang lebih efektif dan aman. Ini juga memungkinkan para profesional kesehatan untuk memberikan perhatian yang tepat dan personalisasi kepada ibu pasca persalinan, dengan tujuan akhir untuk memfasilitasi penyembuhan yang optimal dan mengurangi risiko komplikasi yang terkait dengan luka perineum.

4.5 Implikasi Klinis dan Pencegahan

Memahami faktor-faktor risiko terjadinya infeksi luka perineum memiliki implikasi klinis yang sangat penting dalam praktik obstetri dan kebidanan. Pengetahuan yang mendalam tentang faktor-faktor ini memungkinkan tenaga kesehatan untuk mengidentifikasi ibu yang berisiko tinggi dan memberikan perawatan yang sesuai untuk mencegah infeksi luka perineum (Lewicky-Gaupp et al., 2015). Hal ini membantu dalam meningkatkan kualitas perawatan pasca persalinan dan mengurangi angka kejadian komplikasi yang terkait dengan infeksi.

Identifikasi faktor-faktor risiko merupakan langkah awal yang krusial dalam manajemen perawatan ibu pasca persalinan. Dengan mengetahui faktor-faktor seperti status imun ibu, riwayat infeksi sebelumnya, dan kondisi kesehatan yang mendasari seperti obesitas, diabetes, dan kebiasaan merokok, tenaga kesehatan dapat menilai risiko individual setiap ibu terhadap infeksi luka perineum. Ini memungkinkan mereka untuk mengarahkan sumber daya dan perhatian lebih kepada ibu yang berisiko tinggi, sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi (LYDONROCHELLE, 1995).

Selain memberikan perawatan yang sesuai secara individual, pengetahuan tentang faktor-faktor risiko ini juga dapat membantu dalam pengembangan pedoman klinis dan rekomendasi praktik terbaik dalam manajemen persalinan spontan. Pedoman klinis yang didasarkan pada bukti ilmiah dan penelitian yang solid dapat memberikan panduan yang jelas bagi tenaga kesehatan dalam menangani persalinan, termasuk langkah-langkah pencegahan infeksi luka perineum. Dengan demikian, penelitian tentang faktor-faktor risiko ini berkontribusi pada peningkatan standar perawatan obstetri dan kebidanan secara keseluruhan.

Selain itu, pemahaman tentang faktor-faktor risiko ini juga memicu penelitian lebih lanjut untuk memperdalam pengetahuan kita tentang bagaimana mencegah dan mengelola infeksi luka perineum dengan lebih efektif. Ini dapat mengarah pada pengembangan strategi pencegahan yang lebih inovatif dan terarah, serta terapi yang lebih efektif untuk kasus-kasus yang terjadi. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor risiko ini memiliki dampak yang signifikan dalam meningkatkan perawatan ibu pasca persalinan dan mengurangi angka kejadian infeksi luka perineum secara global.

  1. Kesimpulan

Dalam kajian literatur tentang faktor-faktor risiko terjadinya infeksi luka perineum pada ibu yang melahirkan secara spontan, dapat disimpulkan bahwa pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor ini penting dalam praktik obstetri dan kebidanan. Berbagai faktor seperti status imun ibu, kebersihan perawatan, riwayat infeksi sebelumnya, dan kondisi kesehatan yang mendasari seperti obesitas, diabetes, dan merokok dapat memengaruhi risiko infeksi.

Identifikasi dan evaluasi faktor-faktor risiko ini memungkinkan tenaga kesehatan untuk memberikan perawatan yang lebih terarah dan personalisasi kepada ibu pasca persalinan, sehingga dapat mengurangi risiko infeksi luka perineum dan komplikasi terkait. Pengetahuan ini juga memfasilitasi pengembangan pedoman klinis dan rekomendasi praktik terbaik dalam manajemen persalinan spontan.

Kajian literatur ini menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memperdalam pemahaman kita tentang faktor-faktor risiko ini, serta untuk mengembangkan strategi pencegahan dan pengelolaan infeksi luka perineum yang lebih efektif. Dengan demikian, upaya ini diharapkan dapat meningkatkan standar perawatan obstetri dan kebidanan secara global, serta meningkatkan kesejahteraan ibu pasca persalinan.

 

Daftar Pustaka

Agustin Dwi Syalfina, Dian Irawati, Sari Priyanti, & Ainul Churotin. (2021). STUDI KASUS IBU NIFAS DENGAN INFEKSI LUKA PERINEUM. JURNAL KESEHATAN MERCUSUAR, 4(1), 1–7. https://doi.org/10.36984/jkm.v4i1.176

Ahmed, S., & Fullerton, J. (2019). Challenges of reducing maternal and neonatal mortality in Indonesia: Ways forward. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 144(S1), 1–3. https://doi.org/10.1002/ijgo.12728

Aliffiro Naufal, M., & Muklason, A. (2022). Pengembangan Aplikasi Healthcare Intelligence System Untuk Pemantauan Kesehatan Ibu Dan Anak: Perancangan Aplikasi Frontend. JATISI (Jurnal Teknik Informatika Dan Sistem Informasi), 9(2), 1038–1052. https://doi.org/10.35957/jatisi.v9i2.1902

Andalas, Mohd. (2020). Obstetrik Dalam Kehidupan Sehari-hari Sebuah Pedoman Praktis Dimasa Hamil dan Persalinan. Syiah Kuala University Press. https://doi.org/10.52574/syiahkualauniversitypress.347

Ardhana, V. Y. P. (2021). Perancangan Sistem Informasi Rekam Medis Puskesmas Berbasis UML. SainsTech Innovation Journal, 4(1), 97–104. https://doi.org/10.37824/sij.v4i1.2021.302

Chen, C.-Y., Cheng, A., Huang, S.-Y., Sheng, W.-H., Liu, J.-H., Ko, B.-S., Yao, M., Chou, W.-C., Lin, H.-C., Chen, Y.-C., Tsay, W., Tang, J.-L., Chang, S.-C., & Tien, H.-F. (2013). Clinical and Microbiological Characteristics of Perianal Infections in Adult Patients with Acute Leukemia. PLoS ONE, 8(4), e60624. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0060624

Durnea, C. M., Jaffery, A. E., Gauthaman, N., & Doumouchtsis, S. K. (2018). Effect of body mass index on the incidence of perineal trauma. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 141(2), 166–170. https://doi.org/10.1002/ijgo.12403

Girsang, B. M., Darti, N. A., Simamora, R., & Karo, E. I. (2019). Gambaran Karakteristik Luka Perineum Pada Ibu Post Partum Dengan Hidroterapi Sitz Bath. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta, 6(3), 666. https://doi.org/10.35842/jkry.v6i3.388

Gommesen, D., Nohr, E. A., Drue, H. C., Qvist, N., & Rasch, V. (2019). Obstetric perineal tears: risk factors, wound infection and dehiscence: a prospective cohort study. Archives of Gynecology and Obstetrics, 300(1), 67–77. https://doi.org/10.1007/s00404-019-05165-1

Inayatul Milah, I. (2021). Literatur Review: Pengaruh Rebusan Daun Sirih Terhadap Penyembuhan Luka Perineum pada Ibu Nifas. Jurnal Sosial Sains, 1(11). https://doi.org/10.36418/sosains.v1i11.253

Jones, K., Webb, S., Manresa, M., Hodgetts-Morton, V., & Morris, R. K. (2019). The incidence of wound infection and dehiscence following childbirth-related perineal trauma: A systematic review of the evidence. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 240, 1–8. https://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2019.05.038

Knobben, B. A. S., Engelsma, Y., Neut, D., van der Mei, H. C., Busscher, H. J., & van Horn, J. R. (2006). Intraoperative Contamination Influences Wound Discharge and Periprosthetic Infection. Clinical Orthopaedics and Related Research, 452, 236–241. https://doi.org/10.1097/01.blo.0000229339.11351.ea

Komorowski, L. K., Leeman, L. M., Fullilove, A. M., Bedrick, E. J., Migliaccio, L. D., & Rogers, R. G. (2014). Does a Large Infant Head or a Short Perineal Body Increase the Risk of Obstetrical Perineal Trauma? Birth, 41(2), 147–152. https://doi.org/10.1111/birt.12101

Latifah, A. (2019). HUBUNGAN PERILAKU IBU NIFAS DENGAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM. EMBRIO, 11(1), 17–22. https://doi.org/10.36456/embrio.vol11.no1.a1845

Lewicky-Gaupp, C., Leader-Cramer, A., Johnson, L. L., Kenton, K., & Gossett, D. R. (2015). Wound Complications After Obstetric Anal Sphincter Injuries. Obstetrics & Gynecology, 125(5), 1088–1093. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000000833

LYDONROCHELLE, M. (1995). Perineal outcomes and nurse-midwifery management. Journal of Nurse-Midwifery, 40(1), 13–18. https://doi.org/10.1016/0091-2182(94)00086-L

Mainstone, A. (2004). Sutures, surgical needles and perineal trauma. British Journal of Midwifery, 12(12), 771–776. https://doi.org/10.12968/bjom.2004.12.12.17178

Matsumiya, Y., Yamaguchi, T., Kinugasa, Y., Shiomi, A., Kagawa, H., Yamakawa, Y., Numata, M., Furutani, A., Kurai, H., & Terashima, M. (2017). Prophylactic Antibiotics and Perineal Wound Infection Following Abdominoperineal Resection. The Japanese Journal of Gastroenterological Surgery, 50(4), 265–273. https://doi.org/10.5833/jjgs.2016.0066

MCGUINNESS, M., & NORR, K. (1991). Comparison between different perineal outcomes on tissue healing. Journal of Nurse-Midwifery, 36(3), 192–198. https://doi.org/10.1016/0091-2182(91)90007-C

Mora-Hervás, I., Sánchez, E., Carmona, F., & Espuña-Pons, M. (2015). Perineal Trauma in Primiparous Women with Spontaneous Vaginal Delivery: Episiotomy or Second Degree Perineal Tear? International Journal of Women’s Health and Reproduction Sciences, 3(2), 84–88. https://doi.org/10.15296/ijwhr.2015.16

Nakamura, T., Sato, T., Hayakawa, K., Takayama, Y., Naito, M., Yamanashi, T., Tsutsui, A., Miura, H., & Watanabe, M. (2017). Risk factors for perineal wound infection after abdominoperineal resection of advanced lower rectal cancer. Annals of Medicine & Surgery, 15, 14–18. https://doi.org/10.1016/j.amsu.2017.01.024

Nasir, S., Ahmed, R., Kurniasih, M., Limato, R., Tulloch, O., Syafruddin, D., & Koning, K. De. (2016). Challenges that Hinders Parturients to Deliver in Health Facilities: A Qualitative Analysis in Two Districts of Indonesia. Makara Journal of Health Research, 20(3). https://doi.org/10.7454/msk.v20i3.6072

Okeahialam, N. A., Thakar, R., & Sultan, A. H. (2021). Healing of disrupted perineal wounds after vaginal delivery: a poorly understood condition. British Journal of Nursing, 30(Sup20), S8–S16. https://doi.org/10.12968/bjon.2021.30.Sup20.S8

Oliveira, L. S., Brito, L. G. O., Quintana, S. M., Duarte, G., & Marcolin, A. C. (2014). Perineal trauma after vaginal delivery in healthy pregnant women. Sao Paulo Medical Journal, 132(4), 231–238. https://doi.org/10.1590/1516-3180.2014.1324710

Patterson, D., & Hundley, A. F. (2010). Risk Factors for Perineal Lacerations in Teen Deliveries. Female Pelvic Medicine & Reconstructive Surgery, 16(6), 345–348. https://doi.org/10.1097/SPV.0b013e3181fe2a4c

Prasetyorini, H., & Sukesi, N. (2020). Pengaruh Pijat Perineum Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Trimester III Di Puskesmas Manyaran. Jurnal Ilmu Keperawatan Maternitas, 3(1), 21. https://doi.org/10.32584/jikm.v3i1.81

Puissegur, A., Accoceberry, M., Rouzaire, M., Pereira, B., Herault, M., Bruhat, C., Delabaere, A., & Gallot, D. (2023). Risk Factors for Perineal Wound Breakdown in Early Postpartum: A Retrospective Case–Control Study. Journal of Clinical Medicine, 12(8), 3036. https://doi.org/10.3390/jcm12083036

Rukadikar, A. R., & Bhoyar, S. (2023). Study to determine the factors related to patient and surgical procedures influencing the rate of postoperative surgical wound infections. Southeast Asian Journal of Health Professional, 6(3), 50–56. https://doi.org/10.18231/j.sajhp.2023.012

Sides, C., Gonzalez Rios, A. R., Chu Lam, M., Ward, A. R., Stoltzfus, J., & Lucente, V. R. (2015). Above All, Do No Harm. Obstetrics & Gynecology, 125(Supplement 1), 49S. https://doi.org/10.1097/01.AOG.0000463100.36674.dc

Simarmata, M. (2022). Differences in the Healing of Perineal Wounds in Postpartum Mothers and Hecting Using the Dotted Technique and the Basting Technique. Science Midwifery, 10(5), 4219–4224. https://doi.org/10.35335/midwifery.v10i5.953

Suleiman, M. (2008). The Effect of Flap Design on Wound Healing after Periapical Surgery: A Comparative Study. Al-Rafidain Dental Journal, 8(1), 120–127. https://doi.org/10.33899/rden.2008.9039

Takyi, C., Samba, A., Mumuni, K., Seffah, J. D., & Kudzi, W. (2022). Perinatal Risk Factors Associated With Intrapartum Perineal Injuries At The Korle Bu Teaching Hospital. Postgraduate Medical Journal of Ghana, 9(1), 20–24. https://doi.org/10.60014/pmjg.v9i1.215

Thorne, E. P. C., Durnea, C. M., Sedgwick, P. M., & Doumouchtsis, S. K. (2022). Influence of previous delivery mode on perineal trauma risk. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 159(3), 757–763. https://doi.org/10.1002/ijgo.14218

Webb, S., Laine, K., & de Leeuw, J. W. (2016). Perineal Trauma and Its Impact on Women’s Health. In Perineal Trauma at Childbirth (pp. 147–160). Springer International Publishing. https://doi.org/10.1007/978-3-319-14860-1_8

 

Salam sehat jiwa

Penulis,

Sri Utami

Perawat Amino hospital

(DOWNLOAD)

 

Share

Humas RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Selamat datang di website RSJD dr. Amino Gondohutomo, Kami siap membantu Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 1 =

WordPress Video Lightbox Plugin