EDUKASI WATER TEPID SPONGE PADA PASIEN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

EDUKASI WATER TEPID SPONGE PADA PASIEN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

Demam termasuk salah satu pemicu yang mengakibatkan kejang demam(Dewi et al., 2019).  Banyak fenomena yang terjadi di Indonesia pada saat anak demam orang tua malah tidak menangani dengan baik dan cepat, seperti tidak segera memberikan obat penurunan demam, tidak memberikan kompres, bahkan sebagian orang tua malah membawa anaknya ke dukun. Oleh sebab itu, tenaga medis terlambat memberikan penanganan yang berakibat pada kejang demam (Puspita et al., 2019; Sundari, 2015).

Tingginya suhu tubuh sebagian anak menjadi faktor pencetus terjadinya kejang demam bahkan terjadinya penurunan kesadaran dan demam karena imunisasi dapat menjadi penyebab kejang demam (Irdawati, 2015). Tingginya suhu tubuh saat terjadinya kejang disebut nilai ambang kejang (Adhar, 2016).  Ambang kejang berbeda pada setiap anak sehingga ada yang mengalami kejang setelah suhu tubuhnya meningkat sangat tinggi dan ada juga yang mengalami kejang walaupun suhu tubuhnya tidak terlalu meningkat tinggi. Nilai ambang kejang 38℃ – 40℃, namun kebanyakan pada suhu 38,5℃ anak sudah mengalami kejang demam. Kejang saat kenaikan suhu tubuh yang dikarenakan terjadi proses diluar sistem susunan saraf pusat atau diluar tengkorak kepala tanpa infeksi sistem saraf pusat disebut kejang demam (Adachi et al., 2020)

Menurut WHO, kasus kejang demam pada anak diperkirakan lebih
dari 21,65 juta dan lebih dari 216 ribu meninggal(Saputra et al., 2019). Menurut Riskesdas di Indonesia prevalensi kejang demam  sebanyak 3-4% per 1000 anak yang berusia 6 bulan–5 tahun (Nurlaili et al., 2018).

Water tepid sponge adalah sebuah teknik kompres hangat yang menggabungkan teknik kompres blok pada pembuluh darah supervisial dengan teknik seka (Dewi, 2018). Water tepid sponge bekerja dengan cara vasodilatasi (melebarnya) pembuluh darah perifer diseluruh tubuh sehingga evaporasi panas dari kulit ke lingkungan sekitar akan lebih cepat, dibandingkan hasil yang diberikan oleh kompres hangat yang hanya mengandalkan reaksi dari stimulus hipotalamus (Dewi, 2018).

Water tepid sponge merupakan suatu prosedur untuk meningkatkan kontrol kehilangan panas tubuh melalui evaporasi dan konduksi, yang biasanya dilakukan pada pasien yang mengalami demam tinggi (Wardiyah,  2016). Water tepid sponge adalah suatu tindakan dimana dilakukan penyekaan keseluruh tubuh dengan menggunakn air hangat dengan suhu 32oC sampai 370C, yang bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh yang di atas normal yaitu 37,5oC (Widyawati & Cahyanti, 2015).

Kejang demam yang tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan difabel, penyakit Oppositional Defiant Disorder (OOD), epilepsi bahkan meninggal. Selain itu, anak akan mengalami cerebral palsy (lumpuh otak), terjadi kelumpuhan, epilepsi, retardasi mental hingga mengakibatkan development delay (lambat pertumbuhan) seperti motoric delay (lambat motorik atau gerak), speech delay (lamban bicara), dan cognitive delay (lamban kognitif). Oleh sebab itu, dibutuhkan penanganan yang cepat dan tepat dalam mencegah terjadinya komplikasi penyakit yang lebih parah akibat kejang demam (Irdawati, 2015).  Penanganan yang tepat yaitu dengan tindakan farmakologi, non-farmakologi, maupun kombinasi keduanya (Wardiyah et al., 2016).

Tindakan farmakologi dilakukan dengan pemberian obat antipiretik seperti paracetamol, salisilat atau anti-inflamasi nonsteroid (AINS) untuk menangani demamnya dan obat diazepam untuk menangani kejangnya (Pratiwi et al., 2016; Tanaka et al., 2020). Akan tetapi terapi obat tersebut memiliki efek samping yang dikaitkan dengan tekanan darah rendah, adanya gangguan pada fungsi hati dan ginjal, oliguria, retensi garam dan air, ataksia, mengantuk, dan hipotoni(Deliana, 2015).. Italian Pediatric Society Guidelines menjelaskan bahwa water tepid sponge merupakan salah satu dari beberapa metode yang dapat digunakan dalam mengatasi demam (Iqomah et al., 2019).

Water tepid sponge merupakan suatu tindakan kompres hangat dengan teknik seka diberikan kepada pasien yang mengalami demam tinggi untuk menurunkan atau mengurangi suhu tubuh(Bangun & Ainun, 2017).. Tindakan ini dapat dilakukan oleh semua orang, peralatannya yang murah dan caranya juga mudah dan praktis (Kurniawan, 2016).  Tindakan ini dilakukan dengan menyeka bagian tubuh terutama di lipatan-lipatan tubuh (Kurniawan, 2016).  Tindakan ini dapat dilakukan selama 15 menit sebanyak 3 kali kompres dalam rentang waktu 30 menit perhari sampai suhu tubuhnya menurun (Kurniawan, 2016).

Water tepid sponge dapat menurunkan suhu tubuh pada kejang demam sekitar 0.84oC (Nurlaili et al., 2018).  Ketika tindakan ini dilakukan, suhu tubuh akan menurun karena adanya seka pada tubuh saat pemberian water tepid sponge yang mempercepat pelebaran pembuluh darah perifer di seluruh tubuh sehingga proses penguapan panas dari kulit ke lingkungan sekitar akan lebih cepat dibandingkan dengan kompres hangat(Nurlaili et al., 2018). Tindakan water tepid sponge menghasilkan penurunan suhu tubuh yang signifikan sehingga mencegah terjadinya komplikasi (Nurlaili et al., 2018).

Pemberian terapi water tepid sponge disertai antipiretik dapat lebih menurunkan suhu tubuh pada pasien demam dibandingkan dengan antipiretik saja. Setelah pada menit ke 5 minum antipiretik, rata-rata penurunan suhu tubuh pada anak penderita demam yang mendapat antipiretik ditambah water tepid sponge adalah sebesar 1,3º C. Sedangkan pada kelompok anak yang hanya minum antipiretik tanpa pemberian tepid water sponge, penurunan suhu tubuh rata- rata setelah 30 menit setelah minum antipiretik sebesar 0,63º C. Hal ini menunjukan bahwa lebih besarnya penurunan suhu tubuh pada anak dengan pemberian water tepid sponge.

RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah merupakan unit layanan kesehatan yang memberikan pelayanan komprehensif termasuk pelayanan anak. Berbagai bentuk layanan pada pasien anak diberikan secara medis maupun non medis. Ruang Yudistira merupakan salah satu bagian dari rumah sakit yang memberikan layanan perawatan komprehensif khususnya di pelayanan non jiwa yang mencakup pelayanan pada pasien anak.

Berdasarkan hasil dari wawancara pada keluarga pasien, 4 dari 6 keluarga mengatakan masing-masing dari mereka mengalami kecemasan saat anak mengalami demam, terutama pada anak yang mempunyai riwayat kejang demam sebelumnya. Kecemasan tersebut dikarenakan karena orang tua tidak mengetahui tindakan apa saja yang harus dilakukan saat anak demam. Orang tua hanya memberikan obat penurun demam dan memberikan kompres hanya pada dahi anak.

Ruang Yudistira RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah merupakan sub unit layanan rawat inap komprehensif non jiwa yang memberikan pelayanan kesehatan secara kuratif dan rehabilitatif saja, namun juga memberikan layanan yang sifatnya promotif dan preventif yang dilakukan dengan kampanye dan penyuluhan kesehatan serta pemberian materi edukatif dan praktek tentang penatalaksanaan demam secara non farmakologibagi pasien anak yang masuk ke dalam cakupannya. Permasalahan demam pada pasien anak terutama pada pasien dengan kejang demam merupakan masalah yang kerap dijumpai dalam pelayanan. Tidak sedikit pasien yang dirawat dengan riwayat kejang sebelumnya dan berulang kembali.

Salah satu bentuk pelayanan di Ruang Yudistira RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah dalam upaya rehabilitatif pada anak dengan kejang demam adalah pemberian water tepid sponge yang secara teori dan praktik telah dinyatakan efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada anak yang demam.Pemberian water tepid sponge dilakukan sebagai salah satu intervensi pada pasien anak dengan kejang demam yang dilakukan dengan proses keperawatan yang menjadi acuan pelaksanaanya. Pemberian water tepid sponge menjadi terapi komplementer pendamping terapi farmakologi yang diberikan di Ruang Yudistira RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah.

Pemberian water tepid sponge pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Sistem efektor mengeluarkan sinyal untuk berkeringat dan vasodilatasi perifer. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan energi atau panas melalui keringat karena seluruh tubuh dan kulit dikompres atau dibilas dengan air. Kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh, sehingga dengan membilas seluruh tubuh atau    kulit menyebabkan kulit mengeluarkan panas dengan cara berkeringat dan   dengan berkeringat suhu tubuh yang awalnya meningkat menjadi turun bahkan sampai mencapai batas normal (Dewi, 2018).

Pada prinsipnya pemberian water tepid sponge dapat menurunkan suhu tubuh melalui proses penguapan dan dapat memperlancar sirkulasi darah, sehingga darah akan mengalir dari organ dalam kepermukaan tubuh dengan membawa panas. Kulit mempunyai banyak pembuluh darah, terutama tangan, kaki dan telinga. Aliran darah melalui kulit dapat mencapai 30% dari darah yang dipompakan jantung. Kemudian panas berpindah dari darah melalui dinding pembuluh darah kepermukaan kulit dan hilang kelingkungan sehingga terjadi penurunan suhu tubuh(Widyawati & Cahyanti, 2015).

Hasil evaluasi yang didapatkan berdasarkan evaluasi formatif, penulis menggunakan pendekatan SOAP dalam melakukan evaluasi terhadap penerapan tindakan yang telah dilakukan. evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh perawat, yaitu evaluasi formatif yang bertujuan untuk menilai hasil implementasi secara bertahap sesuai dengan kegiatan yang dilakukan sesuai kontrak pelaksanaan dan evaluasi sumatif yang bertujuan menilai secara keseluruhan terhadap pencapaian diagnosa keperawatan apakah rencana diteruskan, diteruskan sebagian, diteruskan dengan perubahan intervensi, atau dihentikan(Gusti, 2013).

Perawat Ruang Yudistira RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah dikatakan berhasil dalam menerapkan water tepid sponge dikarenakan water tepid sponge merupakan self care atau perawatan diri. Salah satunya pendekatan rehabilitasi agar suhu tubuh dapat turun mencapai nilai normal, sehingga demam anak akan turun. Anak bisa turun suhu tubuhnya, meminimalkan kejadian kejang berulang serta menurunkan angka kematian. Water tepid sponge merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diberikan oleh perawat dalam upaya penatalaksaan demam pada pasien anak dengan kejang demam ,Water tepid sponge  juga merupakan implementasi yang efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada pasien anak dengan kejang demam di Ruang Yudistira RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Depertemen Kesehatan RI. (2020). Riset kesehatan dasar 2018. Jakarta: Badan penelitian dan pengembangan kesehatan.

Djojodiningrat D. (2014). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. 6th ed. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UniversitasIndonesia.

GOLD (Global initiative for chorionic obstructive lung diases)(2007),Global strategy for diagnosis,management,and preventif of chronic obstuctivepulmonary disease update 2017

 Gusti . S, 2013, Asuhan Keperawatan Keluarga, Trans Info Media, Jakarta

John E, Hodgkin., Bartolome R, Celli., Gerilynn L. Connors (2009). Pulmonary Rehabilitation. USA. Elsevier.

Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. 1, No.1, April 2017

Qamila, B., Ulfah Azhar, M., Risnah, R., & Irwan, M. (2019). Efektivitas Teknik Pursed Lipsbreathing Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronik (Ppok): Study Systematic Review. Jurnal Kesehatan, 12(2), 137

Russell, R., Norcliffe, J. Bafadhel, M. (2012). Chronic obstructive pulmonary disease: management of chronic disease. Elsevier Ltd. All rightsreserved.

 Smeltzer. (2013). Endurance and Strength training with Chronic Obstructive Pulmonar Disease (COPD) . London : St George’s University of London.

World Health Organization (WHO). (2017). Chronic obstructive pulmonary disease (COPD).

Salam sehat jiwa

Penulis,

Aning Sri Anggoro Mey

Perawat Amino hospital

(DOWNLOAD)

Share

Humas RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Selamat datang di website RSJD dr. Amino Gondohutomo, Kami siap membantu Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

23 + = 33

WordPress Video Lightbox Plugin