DAMPAK PSIKOLOGIS KORBAN PERUNDUNGAN

DAMPAK PSIKOLOGIS KORBAN PERUNDUNGAN

Kita sering sekali mendengar kata bullying atau perundungan dan melihat di televisi berita mengenai kasus-kasus bullying yang terjadi di masyarakat. Bahkan tayangan-tayangan sinetron hampir semuanya mempertontonkan adegan bullying, sehingga akan menjadi pengaruh negatif bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Hal tersebut bisa dinilai bahwa bullying merupakan suatu perbuatan yang biasa dan bukan hal yang salah, sehingga mudah ditiru oleh mereka.

Dari pengalaman di ruang praktek psikologi banyak pasien datang dengan keluhan menjadi pendiam daripada biasanya, menarik diri dari pergaulan dan keluarga, prestasi menurun, merasa tidak berharga, tidak mau berangkat sekolah,  ada beberapa yang sudah cutting pergelangan tangan (self-harm), bahkan ada yang sudah melakukan percobaan bunuh diri. Keluhan-keluhan tersebut setelah digali ternyata berawal dari pengalaman bullying yang mereka terima di masa sekolah, baik mulai dari tingkat SD sampai masa perkuliahan. 

Setiap tahun semakin banyak jumlahnya kasus perundungan. KPAI merilis data tahun 2015, yang menyebutkan bahwa hampir semua pelajar di Indonesia pernah mengalami bullying di sekolah. Sekalipun tingkat kekerasan pada anak di tahun 2015 memperlihatkan penurunan, namun jumlah perilaku bullying di sekolah, dengan siswa sebagai pelaku bully bagi sesamanya justru meningkat. Berdasarkan data KPAI pada tahun 2022 ada 226 kasus kekerasan fisik, psikis termasuk perundungan (kompas.com, 24 Juli 2022). Ini termasuk angka yang cukup besar dan perlu perhatian dari berbagai pihak yang terkait.

Dalam tulisan ini kata bullying akan diganti dengan kata perundungan untuk memudahkan membacanya dan sesuai dengan kamus Bahasa Indonesia. Pengertian perundungan itu sendiri adalah  perilaku agresif dengan bentuk kekerasan spesifik yang:

  1. Bertujuan untuk menyakiti atau mengganggu
  2. Terjadi berulang atau potensial terulang
  3. Kekuatan antara korban dan pelaku tidak seimbang

Perundungan adalah aksi rahasia, sedang korbannya (bahkan saksi mata) tak berani melapor. Sungguh kombinasi yang sempurna untuk tidak pernah terdeteksi selamanya. Tetapi bukannya tidak mungkin dideteksi, bagaimanapun takkan ada orang yang bisa menyembunyikan hal buruk selamanya.

Begitu juga dengan korban perundungan. Menjadi korban adalah pengalaman yang menyakitkan, menyimpan peristiwa terus menerus adalah hal yang berat. Bayangkan bagaimana kondisi korban dimana ia tiap hari selalu diganggu, disakiti, dipermalukan secara berulang-ulang, pasti ia mengalami rasa tidak aman, guncangan psikologis, trauma bahkan gangguan jiwa. Karenanya, sesungguhnya tanpa disadari korban telah mengirim sinyal SOS pada orang-orang sekitarnya. Bagaimana sinyal itu disampaikan kepada kita ?

Tahapan paling awal dalam mendeteksi perundungan adalah adanya perubahan perilaku dan emosi pada korban. Dibawah ini bisa menjadi tanda-tanda anak kemungkinan mengalami perundungan:

  1. Mengalami luka yang tak bisa dijelaskan
  2. Sering kehilangan barang-barang
  3. Barang-barangnya sering rusak
  4. Perubahan pola makan
  5. Muncul perilaku yang tidak biasa
  6. Sulit tidur dan sering mimpi buruk
  7. Prestasi sekolah turun, mogok sekolah
  8. Muncul perilaku destruktif
  9. Depresi dan cemas
  10. Rendah diri akut

Saat menemukan salah satu atau lebih tanda diatas, jangan panik dulu, belum tentu juga anak mengalami perundungan. Namun begitu, sebaiknya kita waspada karena tak ada satupun dari tanda-tanda di atas yang bisa diabaikan begitu saja. Sulit memang untuk korban bisa jujur dan terbuka menceritakan dan melaporkan bahwa ia menjadi korban perundungan, meskipun  ia sudah mengalami tanda-tanda diatas. Mengapa? Korban perundungan, umumnya tidak melaporkan perlakuan yang diterimanya pada siapapun. Kalaupun ada yang melaporkan tanda-tanda awal perundungan, banyak yang tidak mendapatkan tanggapan baik. Hal ini disebabkan banyaknya anggapan yang keliru seputar perilaku perundungan.

Banyak dari kita yang menganggap perundungan hanyalah sekedar kenakalan anak biasa, beberapa yang lain berpikir bahwa perundungan diperlukan untuk membentuk anak menjadi pribadi yang  tangguh, sisanya yang lain menganggap pengabaian pada kasus perundungan yang dialami anak merupakan cara untuk mendorong kemampuan anak menyelesaikan masalah. Akibatnya seringkali guru dan orangtua baru mengetahui peristiwa perundungan setelah munculnya berbagai gejala-gejala gangguan mental atau kesehatan.

Merasa takut pada pelaku dan khawatir semakin dijauhi teman karena dianggap tukang mengadu, adalah alasan yang sering menghambat korban untuk melaporkan perundungan yang dialami. Padahal ‘mengadu’ dan ‘melapor’ adalah dua hal berbeda. ‘Mengadu’ bertujuan membuat teman mendapat hukuman, sedangkan ‘melapor’ bertujuan melindungi diri sendiri atau teman dari bahaya. Sebelum bereaksi membabi buta atau malah bersikap tidak peduli, kita sebaiknya meneliti lebih dulu, apakah peristiwa yang diceritakan anak adalah hal yang perlu ditindaklanjuti atau bisa diabaikan.

Lalu bagaimana cara agar korban bisa terbuka dan berani melaporkan perundungan yang sudah dialaminya?

Ada yang bisa kita lakukan untuk membantu anak mau terbuka dan jujur atas apa yang ia alami, yaitu sebagai berikut:

  1. Membangun komunikasi yang sehat dengan anak dan peka akan setiap perubahan sikap anak, betapapun kecilnya, adalah cara yang efektif untuk mendeteksi perundungan yang mungkin diterima anak. Beri pengertian kepada anak bahwa perundungan bukanlah cara untuk membuat anak menjadi kuat dan tabah, bahkan sebaliknya membuat anak menjadi rendah diri, merasa tidak berharga dan tidak bahagia.
  2. Temukan sumber permasalahan

Langkah awal untuk kita dapat membantu korban adalah mencari penyebab kenapa ia dirundung. Dengan mengetahui akar masalahnya maka kita dapat memberikan solusi atau langkah berikutnya yang harus dilakukan.

  • Tingkatkan rasa percaya diri

Dampak dari perundungan adalah korban menjadi minder, kurang percaya diri dan menarik diri. Oleh karena itu kita perlu menjadi teman yang bisa diajak bicara dan berbagi cerita sehingga menumbuhkan trust terhadap kita, lalu kita bisa memotivasinya bahwa korban bukanlah seburuk apa yang pelaku labelkan kepada korban.

  • Sarankan untuk berani bertindak

Beri pengertian kepada korban untuk tidak diam saja namun berani bicara kepada pihak yang terkait seperti orangtua, guru BK, atau wali kelas.

  • Hindari pergaulan yang toxic

Ajari korban untuk memilih teman yang membangun karakter dan kualitas pribadi, bukan teman atau pergaulan yang justru menurunkan kualitas pribadi maupun prestasi. Teman yang positif adalah teman yang bisa selalu mendukung di saat kita lemah/terjatuh, teman yang bisa menerima keadaan kita apa adanya dan bersedia membantu saat kita membutuhkannya. Sedangkan teman yang toxic adalah teman yang harus membuat kita memakai topeng (tidak apa adanya), teman yang hanya memanfaatkan kita demi kepentingan mereka saja tanpa memperhatikan kepentingan kita sendiri.

  • Cari bantuan dari ahlinya

Apabila korban mengalami trauma sampai ia mogok sekolah, sulit tidur, sering bermimpi buruk, depresi dan mengurung diri, menyakiti diri sendiri (self harm) atau bahkan sudah mencoba bunuh diri, maka perlu segera pertolongan ke psikiater atau psikolog. Dengan demikian korban segera tertangani dan dapat segera pulih dari tekanan psikologis yang dialaminya tersebut sehingga tidak berlarut-larut menjadi gangguan jiwa berat.

Kita dapat menghentikan kasus perundungan  apabila di segala lapisan dan lingkungan, bukan hanya di kalangan anak-anak di sekolah tapi di semua lingkungan yaitu dimulai sejak di rumah, di lingkungan tetangga, dan di lingkungan masyarakat luas,  memahami dan melaksanakan golden rules, yaitu “perlakukanlah orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan”. Niscaya di manapun kita berada tidak akan kita jumpai kasus perundungan dan kita semua akan merasa aman dan nyaman.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyani, Riana. 2017. Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah – Panduan untuk Guru dan Orangtua. Cahya Pustaka

Gunarso, S.D. Gunarso, Y.S. 1968. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Jakarta Gunung Mulia.

Haditono, S.H. 1985. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta Universitas Gadjah Mada.

Share

Humas RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Selamat datang di website RSJD dr. Amino Gondohutomo, Kami siap membantu Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WordPress Video Lightbox Plugin