AUTISME, DAPATKAH SEMBUH ATAU TIDAK?

AUTISME, DAPATKAH SEMBUH ATAU TIDAK?

Dewasa ini kita sering sekali mendengar kata autis, namun tak jarang kata autis sendiri digunakan pada situasi dan kondisi yang tidak tepat. Saat teman sibuk bermain telepon genggam sendiri, kita sering melabel orang tersebut dengan autis. Namun, sudahkah kita memahami apa itu autis? Autis berasal dari kata “auto”, yang artinya sendiri. Jadi tidak heran apabila individu dengan autistik akan nampak asyik dengan dunianya sendiri. Jumlah individu dengan autistik setiap tahunnya semakin bertambah. Di California pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autisme per-harinya, d Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 15.000-60.000 anak dibawah 15 tahun. Sedangkan di Indonesia yang berpenduduk 200 juta lebih, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakan jumlah anak autisme dapat mencapai 150-200 ribu orang. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6-4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat (Yeni, Murni, & Oktora, 2009).

Individu autistik mengalami berbagai hambatan. Hal mendasar yang menjadi hambatan bagi dirinya adalah interaksi sosial. Hal ini biasanya yang menjadi tolok ukur bagi pendiagnosaan individu autistik. Simptom gangguan yang hampir mirip dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder), atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut dengan GPP (Gangguan Pemusatan Perhatian), menjadikan kesulitan tersendiri untuk menegakkan diagnosa autisme. Ciri lain yang nampak pada individu autisme selain mengalami hambatan interaksi sosial adalah adanya hambatan dalam berimajinasi. Individu dengan autisme merupakan pribadi yang rigid (kaku), sehingga ketika ia diminta untuk membayangkan secara abstrak sebuah bentuk atau alur cerita, ia mengalami kesulitan.

Selain indikasi di atas, ada beberapa indikasi awal yang dapat digunakan sebagai screening awal bagi seorang anak autis, yaitu:

  1. Usia 0-6 bulan
  • Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
  • Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
  • Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi
  • Tidak “babbling”
  • Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
  • Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
  • Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
  1. Usia 6-12 bulan
  • Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da)
  • Tidak mengeluarkan kata
  • Tidak tertarik pada boneka
  • Memperhatikan tangannya sendiri
  • Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus
  • Mungkin tidak dapat menerima makanan cair
  1. Usia 2-3 tahun
    • Kontak mata terbatas
    • Tertarik pada benda tertentu
  2. Usia 4-5 tahun
    • Sering didapatkan ekolalia (membeo)
    • Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)
    • Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
    • Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
    • Temperamen tantrum atau agresif

Bila merujuk pada indikasi di atas, maka nampak bahwa perkembangan anak dengan autisme terhambat di beberapa hal. Lalu, apakah autisme dapat disembuhkan? Jawabannya merujuk pada judul dari artikel ini. Autisme adalah sebuah gangguan perkembangan, bukan penyakit. Sebuah gangguan perkembangan akan menetap pada diri individu. Namun, gangguan ini dapat diminimalisir dengan adanya terapi. Terapi di sini, fungsinya adalah untuk meminimalisirkan simptom-simptom pada gangguan tersebut. Misalnya, pada awalnya seorang anak autis mengalami keterlambatan wicara, namun dengan adanya terapi, akan meningkatkan kemampuan wicaranya sehingga ia mampu berkomunikasi dengan orang lain, meskipun masih membutuhkan bantuan orang lain.

Gangguan perkembangan ini, sama hal nya dengan gangguan fisik yang dialami oleh orang dewasa, misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus. Seorang pasien yang mengidap gangguan diabetes mellitus, sepanjang hidupnya perlu mendapatkan terapi, contohnya berupa terapi medikasi. Hal ini dilakukan supaya simptom-simptom gangguannya tidak muncul dan orang tersebut dapat beraktifitas normal seperti yang lain.

Struktur otak yang dimiliki individu dengan autisme sejak lahir juga berbeda dengan individu normal. Wilayah otak, salah satunya, yaitu pada frontal cortex yang terdiri atas prefrontal cortex dan temporal cortex tidak berfungsi sempurna. Hal ini menyebabkan otak tidak mampu memberi perintah terkait emosi, ekspresi, dan interaksi sosial. Riset menunjukkan, dilihat dari bobotnya, otak pada individu autis cenderung lebih besar daripada anak normal. Hal ini disebabkan karena jumlah sel neuron pada individu autisme lebih banyak, yaitu 1,9 milyar sel, sedangkan pada individu non autisme terdiri dari 1,7 milyar sel (Kerig, dkk. 2012).

 

Gb 1. Perbandingan otak anak dengan autisme dan anak normal

 

Pada dasarnya, individu autisme dapat dideteksi sejak usianya nol bulan. Penulis sendiri mendapatkan keterangan dari seorang ibu yang memiliki anak autisme. Ibu tersebut menyatakan bahwa putranya ketika lahir tidak memiliki kontak dengannya, baik kontak mata maupun kontak fisik. Ia membandingkannya dengan anak keduanya yang terlahir normal. Ketika anak keduanya lahir, ia memiliki kontak dengan anak tersebut. Baik ketika disusui maupun ketika digendong, anak tanpa autisme akan membalas pelukan dari orang yang menggendongnya, namun tidak pada anak dengan autisme.

Jumlah anak autis setiap tahunnya semakin banyak, namun yang tertangani hanya sebagian kecil saja. Salah satunya dikarenakan dari ketidak tahuan dari orang yang mengasuh anak tersebut. Keterlambatan perkembangan adalah ciri awal yang perlu diwaspadai. Ada baiknya jika orangtua melihat tanda keterlambatan perkembangan, khususnya seperti yang telah disebutkan di atas langsung berkonsultasi pada tenaga profesional yang berkompeten di bidangnya, seperti psikolog anak atau dokter anak. Hal ini dikarena semakin anak autis dideteksi dan ditangani lebih awal, maka prognosa ke arah yang lebih baik akan semakin besar.

 

Oleh: Laurencia Rizki Marhendrawati, M.Psi. Psikolog.

 

Daftar Pustaka:

Kerig, P. K., Ludlow, A., Wenar, C. 2012. Developmental Psychopathology. Mc Graw Hill:

United Kingdom.

 

Yeni, A. F., Murni, J. Y., & Oktora, R. 2009. Autisme dan Penatalaksanaan. (Online) diambil

dari: (http://www.Files-of-DrsMed.tk/.) diakses tanggal 12 Januari 2016.

Share

Humas RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Selamat datang di website RSJD dr. Amino Gondohutomo, Kami siap membantu Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

+ 48 = 50